Indonesia
Gamereactor
review
Medal of Honor: Above and Beyond

Medal of Honor: Above and Beyond

Seri yang sempat terkenal ini kembali dalam versi VR dan mengantarkan kita mencicipi kejamnya Perang Dunia II.

Di akhir tahun 90-an, Steven Spielberg dan perusahaannya, Dreamworks, membuat game Medal of Honor pertama. Setelah selesai syuting film Perang Dunia II-nya yang begitu impresif, Saving Private Ryan, Spielberg dan rekan-rekannya ingin membuat game yang mengetengahkan kejamnya PDII sejelas film yang mereka buat. Seperti yang mungkin kamu ingat, kedua karya ini menghadirkan potret menegangkan peristiwa "Pertarungan Pantai Omaha", sebuah kejadian yang menghilangkan nyawa ribuan prajurit yang mencoba mendarat di daerah pantai yang diduduki oleh Prancis. Medal of Honor segera meledak besar-besaran sehingga tidak heran seri inii kemudian menghadirkan 15 game dalam tahun-tahun setelahnya. Namun, Medal of Honor: Warfighter menjadi kegagalan besar di tahun 2012 dan sejenak nampak menutup masa depan seri ini terlalu cepat.

Nah, kini Medal of Honor kembali ke medan perang dan Respawn Entertainment menanggung misi membawa IP ini ke era yang baru. Ketika Dreamworks memproduksi Medal of Honor pertama, game ini adalah sebuah eksperimen. Medal of Honor: Above and Beyond tidak mengambil jalan yang mudah juga karena game ini didesain sebagai pengalaman VR penuh. Untungnya, kamu bisa melihat bahwa pengembang telah menghabiskan waktu lama menemukan pendekatan yang tidak hanya menyasar penggemar VR garis keras. Game ini menawarkan lima misi besar dan total 56 misi kecil. Beberapa misi ini bisa jadi sangat pendek, terutama di awal, dan tidak lebih dari adegan karakter yang berbincang sebentar denganmu atau sekuens aksi pendek di area sempit. Untuk menghindari kemungkinan mabuk darat, Respawn Entertainment mengambil waktu untuk mengenalkan pemain kepada mekanisme dan sifat-sifat VR dengan pelan dan hati-hati.

Medal of Honor: Above and Beyond mendemonstrasikan kekuatan VR dari awal. Dimulai dari "main menu" yang didesain sebagai sebuah ruangan lengkap di markas layanan intelijen militer OSS. Kita bisa memungut beberapa barang dan mengamatinya di tangan atau mencoba mesin tik model lama. Begitu aksi dimulai, kita diperkenalkan dengan cara menggunakan senjata kita yang cukup intuitif. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Jika ingin mengisi ulang peluru, misalnya, kita harus menjatuhkan selongsong kosong sebelum mengambil selongsong baru dari pinggang dan mengisinya ke pistol. Bahkan, kebanyakan senjata mengharuskan kita melepas dahulu tali picu sebelum kita bisa melanjutkan ke langkah berikutnya. Tidak dapat dipungkiri kalau sistem isi ulang amunisi manual ini akan memberikanmu banyak asupan adrenalin di tengah perang! Aspek imersi ini juga didukung dengan seberapa intuitifnya bergerak di medan tiga dimensi. Kita harus menggerakkan kepala untuk mengubah sudut pandang. Yang terbaiknya adalah kita bisa memiringkan badan secara hati-hati untuk mengintip dari sudut atau membungkuk untuk melindungi diri. Game ini bisa jadi cukup melelahkan kalau dimainkan sambil berdiri, tapi mengingat kita semua sedang bekerja dari rumah, rasanya sedikit olahraga tidak masalah.

Bicara soal elemen realistis dan intuitif, Above and Beyond dipenuhi hal kecil seperti itu. Misalnya, ketika kita menyuntikkan obat ke dada atau menggigit lepas pengaman granat dengan menggerakkan granat ke arah mulut. Ada pula tujuan khusus yang memanfaatkan kemampuan VR: misalnya, ketika kita menggunakan pendeteksi logam untuk menemukan ranjau atau menggunakan teropong untuk menemukan posisi senapan anti serangan udara. Ada pula episode rail-shooting yang mengharuskan kita menembak pasukan Nazi dari kursi penumpang sebuah motor atau mengendalikan bidikan sebuah tank. Adegan semacam ini tidak realistis tapi sangat menyenangkan, juga cocok dengan suasana seri Medal of Honor yang selalu mempunyai kedekatan erat dengan novel aksi, buku komik, dan film petualangan yang banyak beredar di tahun 50-60an dan memberikan kontras terhadap trauma perang dengan cara yang agak naif.

Medal of Honor: Above and BeyondMedal of Honor: Above and Beyond

Namun, tak peduli seberapa menyenangkan adegan-adegan ini, keberadaannya cuma menekankan dengan lebih jelas masalah yang dimiliki game ini. VR terasa seperti media paling tepat untuk menyampaikan kekejaman perang, tapi alih-alih memanfaatkan potensi ini sepenuhnya, Above and Beyond malah ditempatkan dalam karikatur kekanakan. Mungkin memang karakternya sengaja tidak dibuat senyata mungkin, tapi setelah memainkan Half Life: Alyx dan Star Wars Squadron, hal ini tetap mengecewakan. Penempatan dialognya juga tidak terlalu bagus dan animasi karakter tetap patah-patah. Sebenarnya, cara musuh menjatuhkan senjata mereka kadang mengingatkan saya pada game Medal of Honor yang pertama, yang tidak bisa dibilang pujian di tahun 2020. Mungkin kamu bisa berpikir bukan masalah besar kalau senjata yang jatuh tiba-tiba berubah posisi secara horizontal dan melayang ke tanah, tapi dalam lingkungan VR kelemahan semacam itu menarik perhatian dan merusak ilusi. Karenanya, lingkungan yang sudah susah payah dibuat pun jadi rusak.

Komponen tidak realistis seperti itu patut disayangkan karena game ini menggunakan komponen film dokumenter yang menyampaikan perspektif yang berbeda. Melihat veteran perang menceritakan pengalaman nyata mereka adalah sesuatu yang sangat mengharukan, terutama karena kamu dengan mudah melihat dampak emosional kejadian ini terhadap orang-orang yang diwawancara. Menyedihkan karena gamenya sendiri tidak sanggup mempertahankan suasana yang sudah dibuat, tapi kalau boleh jujur... ini juga game yang dibuat bagi penggemar lama yang menyukai aksi spektakuler dan ingin bersenang-senang menembak Nazi diiringi pemusik militer. Yah, kamu tidak harus menembak Nazi karena sebenarnya kamu juga bisa membunuh mereka dengan pisau tarung atau benda-benda lain yang kamu temukan di sekitarmu, misalnya garpu taman atau pisau dapur. Meski kamu akan melihat banyak darah berceceran sepanjang game, game ini tidak sebrutal Saving Private Ryan jadi jangan mengharapkan organ dalam beterbangan.

Medal of Honor: Above and BeyondMedal of Honor: Above and Beyond

Sebagai game shooter interaktif, Medal of Honor: Above and Beyond adalah pengalaman yang menyenangkan. Meski misi seringkali berakhir tiba-tiba dan game ini tidak mencapai presentasi visual setara Call of Duty, VR menambahkan sesuatu yang istimewa dan kerap kali mengejutkanmu. Pernyataan resmi pengembang mengatakan ada sekitar 1200 orang yang terlibat dalam pengerjaan game dan kamu bisa melihat seberapa rinci dunianya. Above and Beyond bisa jadi pembuka mata bagi pemain yang awam pengalaman VR sementara pemain hardcore mungkin merasa bahwa ada aspek kendali yang ditangani lebih baik oleh game VR lainnya. Meletakkan dua senjata di masing-masing bahu bisa jadi cukup memusingkan, misalnya. Menangani barang bawaan dan memungut barang adalah tindakan lain yang sering bermasalah. Secara umum, game ini butuh polesan di hampir segala aspek. Satu hal yang jadi pengecualian adalah desain area yang luar biasa dengan segala konten statisnya.

Mode multiplayer Above and Beyond adalah hasil karya yang biasa-biasa saja dalam artian memang menyenangkan dimainkan tapi tidak menawarkan kompleksitas progresi yang mendukung untuk jadi pendorong jangka panjang seperti yang (sudah memang seharusnya) dimiliki game <em>shooter modern. Ada mode daring yang cerdas bertajuk Mad Bomber yang memungkinkan pemain bermain petak umpet bom. Kamu harus menemukan dan menjinakkan bom yang disembunyikan pemain lain sebelum meledak. Kalau mereka berhasil, mereka mendapatkan banyak poin. Kita harus menunggu untuk melihat apakah Respawn Entertainment akan membuat penyesuaian lebih lanjut terhadap aspek multiplayer dan apakah mereka akan membuat mode baru lagi. Mode solo dilengkapi dengan beberapa hal yang bisa dikumpulkan dan kamu bisa membuka beberapa karakter multiplayer baru. Kalau kamu merasa kamu sudah cukup terbiasa dengan mode solo, mungkin kamu perlu mencoba mode survival.

Pada akhirnya, Medal of Honor: Above and Beyond layak mendapat tempatnya dalam seri ini. Game ini jelas akan memberikan pengalaman impresif bagi pemula dunia VR sementara pemain veteran mungkin memprotes tuntutan perangkat keras yang lumayan drastis dan komponen kendali yang terasa pas-pasan dibanding game lain. Suasana kekanakan game ini tidak untuk semua orang, tapi aspek film dokumenternya tidak boleh dilewatkan sama sekali. Inilah aspek yang benar-benar dikerjakan Above and Beyond dengan sukses, memberi tempat terang bagi konteks sejarah yang melatari permainan. Aspek inilah yang bisa dikatakan memenuhi ambisi yang dimiliki Steven Spielberg dan Dreamworks untuk Medal of Honor pertama secara impresif.

Medal of Honor: Above and Beyond
Medal of Honor: Above and Beyond
08 Gamereactor Indonesia
8 / 10
+
Misi komprehensif, lokasi impresif, bahan dokumenter kualitas tinggi
-
Kurang polesan hampir di semua segi, tuntutan perangkat keras luar biasa tinggi
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait



Loading next content


Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.