Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.

Indonesia
Halaman depan
review
Ion Fury

Ion Fury

Grafis dan gameplay klasik menghadirkan nilai nostalgia bagi pencinta FPS jadul, tapi apakah ini semua cukup?

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Duke Nukem adalah sebuah franchise yang secara perlahan menghilang, tetapi Ion Fury telah mengingatkan kami tentang hal itu.

Di sini kamu akan mengontrol seorang protagonis Shelly "Bombshell" Harrison di jalanan NEO DC. Kamu harus melindungi jalanan keras dari kota itu dari Dr Jadus Heskel dan pasukan sekte augmentasinya.

Seiring pertarunganmu melalui tujuh zona di game ini, kamu akan melawan segerombolan musuh dan bos dalam first person shooter bergaya retro ini, yang akan membawakan nuansa nostalgia. Objektif dasarnya adalah membunuh semua lawan dan untuk itu kamu dapat mengambil senjata, terkadang di kedua tangan, dan menembaki segala hal yang bergerak. Selain itu, kamu bisa menemukan semua rahasia yang tersembunyi di balik level sekaligus mencari tuas dan kartu kunci berwarna untuk membuka pintu. Mereka yang dulu memainkan versi lawas dari Doom dan Wolfenstein pasti sudah tidak asing lagi.

Kami telah menggunakan kata-kata seperti retro dan nostalgia, dan sebagian besar dari itu bisa kamu lihat dari grafisnya. Ion Fury dibangun menggunakan Build Engine - engine sama yang digunakan untuk membuat game klasik seperti Duke Nukem. Pertama-tama, kami tidak begitu yakin dengan grafisnya, tetapi setelah beberapa detik, kami benar-benar tenggelam dan menyadari bahwa gaya visualnya sangat cocok dengan pengalaman yang ditawarkan. Musuh-musuhnya terkadang terlihat gepeng ketika kamu berdiri di atas mereka, mengingatkan kami ketika grafis bukanlah segalanya dan gameplay dan kesenangan adalah yang lebih penting. Itulah yang kami dapatkan di sini: sesuatu yang menyenangkan!

Ion Fury

Perbandingan dengan Duke Nukem tidak berhenti di sana. Protagonis perempuan kami juga memiliki mulut yang konyol seperti Dunke dan beberapa one-liner darinya membuat kami tergelak. Kami senang dengan karakter yang menarik seperti ini. Pujian pula untuk Valerie Michelle Arem yang memerankannya dengan hebat. Terdapat pula sejumlah referensi kultural yang sedang terjadi saat ini seperti sebuah logo kedai kopi berwarna hijau dan putih yang memiliki latar daun ganja, lalu soda berwarna merah dan putih yang kadang terbaca seperti "cock". Kami mungkin saja salah karena gambarnya buram jika dilihat dari dekat.

Terdapat pula variasi musuh dan senjata yang banyak. Tersedia magnum untuk menembaki makhluk berkepala laba-laba, lalu uzi untuk membakar para cultist, tidak lupa crossbow yang bisa kamu gunakan untuk menghabisi lipan pelontar asam. Banyak hal-hal menarik di sini.

Namun, ada beberapa hal pula yang ingin kami bahas. Pertama, terkadang frame rate jatuh dan tersendat-sendat. Ini tidak merusak game, tetapi sedikit mengganggu ketika terjadi (kami memainkannya di PS4). Lalu, terdapat komentar yang dikatakan oleh para penjahat; mereka terus-menerus mengatakan kalimat yang sama lagi dan lagi. Ya, mereka memang cultist, tetapi hal itu menjadi sedikit menyebalkan seiring waktu.

Ion FuryIon Fury

Masalah lain yang kami alami adalah kontrol, yang sangat sensitif untuk sebuah shooter konsol. Kami harus mengatur sensitivitas kamera karena terasa terlalu tinggi dalam pengaturan default. Begitu juga dengan senjata yang tiba-tiba menembak ketika kami tidak merasa menekannya sedikitpun. Pemilihan senjata juga tidak begitu intuitif dan kami cukup repot ketika mengubah senjata menggunakan D-pad. Ya, terasa seperti di zaman dulu, tetapi tentunya aspek yang satu ini bisa dibuat lebih modern.

Akhirnya, kurangnya multiplayer mengecewakan kami. Ini adalah sebuah permainan yang akan mendapatkan banyak nilai tambah jika ada fitur online, belum lagi replay value. Ada banyak yang bisa dilakukan di sini, dengan rahasia-rahasia yang bisa dicari dan berbagai tingkat kesulitan. Aksinya memang sangat menyenangkan, tetapi perlu alasan besar untuk kembali memainkannya.

Secara keseluruhan, kami menikmati Ion Fury, tetapi retro shooter ini tidak untuk semua orang. Masalah frame-rate yang terkadang muncul, penjahat menyebalkan yang mengucapkan kata-kata menyebalkan, dan bahkan grafis zaman dulu mungkin akan membuat beberapa orang lari. Meski begitu, ada banyak hiburan yang bisa didapatkan di sini, terutama jika kamu adalah pencinta game FPS klasik.

Ion Fury
07 Gamereactor Indonesia
7 / 10
+
Sebuah sentuhan nostalgia untuk para penggemar shooter retro, gameplay yang menyenangkan dan intens.
-
Komentar dalam game yang repetitif, kontrol terkadang agak rumit.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

Ion FuryScore

Ion Fury

REVIEW. Ditulis oleh Roy Woodhouse

Grafis dan gameplay klasik menghadirkan nilai nostalgia bagi pencinta FPS jadul, tapi apakah ini semua cukup?



Loading next content