Indonesia
review
FIFA 21

FIFA 21

Mungkin sudah waktunya mulai dari awal lagi, EA...

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Saat Konami memutuskan untuk menunda rilis PES yang "pantas" tahun ini karena COVID-19 dan langsung melompat ke engine game yang baru di generasi selanjutnya, EA Sports memutuskan untuk melanjutkan rilis rutin FIFA 21 mereka. Dan jujur saja, ada beberapa fitur yang awalnya kedengaran layak untuk dibeli dengan harga penuh... jika mereka tidak lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

Mulai dari gameplay. Kami harus mengatakan bahwa kami sangat kecewa dengan FIFA 21. Ada beberapa fitur baru, yang utamanya berkenaan dengan pemain yang bergerak ke lapangan terbuka dan operan-operan terobosan. Kecerdasan buatan penyerang kini lebih baik, dengan pencarian posisi yang lebih bagus dan pencegahan offside yang lebih efektif. Di sisi lain, AI pemain bertahan kini jauh lebih buruk dalam menjaga lapangan, membuat mereka sangat rentan terkena serangan balik.

Pemain juga dapat menggunakan kontrol baru untuk meminta pergerakan secara manual, menggunakan stik analog kanan untuk mengindikasikan kemana teman setim harus berlari. Fitur ini memang keren, namun juga agak tumpang-tindih dengan fungsi stik analog kanan yang lain, termasuk gerakan-gerakan skill dan sentuhan pertama. Dengan kata lain, setiap kali kamu meminta pemain untuk bergerak, kamu juga akan melakukan gerakan yang mungkin tidak kamu inginkan.

Tabrakan antar kontrol ini juga terjadi di konteks lain, dan beberapa bahkan terjadi juga di FIFA 20, seperti dribel L1/LB yang juga meminta rekan setim untuk bergerak. Dengan kata lain, tidak mungkin untuk menggiring bola tanpa pemain lain juga bergerak maju, dan ini rasanya absurd. Seperti sudah dikatakan sebelumnya, situasi-situasi ini juga pernah terjadi sebelumnya, namun tidak sesering di FIFA 21 karena naiknya jumlah aksi yang bisa dilakukan.

Masih terkait pergerakan penyerang, kini kamu dapat mengambil kontrol pemain tertentu dalam pertandingan dengan memencet R3 dan L3. Kamu dapat menggunakan hal ini untuk mengoper bola ke rekan setim, sambil tetap mempertahankan kontrol pada pengumpan, membuatmu bisa mengarahkannya secara manual kemanapun kamu ingin ia bergerak. Selanjutnya, kamu bisa meminta operan saat kamu merasa kamu sudah ada di posisi yang bagus. Hal ini adalah hal baru yang menarik, yang memberikan kontrol lebih besar pada pemain.

FIFA 21

Fitur baru yang agak aneh adalah Rewind, sebuah fungsi yang membuatmu dapat kembali ke beberapa detik yang lalu untuk mencoba lagi—layaknya beberapa game menyetir. Artinya, jika kamu kebobolan gol, atau gagal mencetaknya, kamu bisa kembali beberapa detik ke belakang dan mencobanya lagi. Saya tidak tahu apa kamu akan berpikir ini adalah fitur yang bagus atau buruk sekali, namun apapun pendapatmu, patut dicatat bahwa Rewind hanya bisa digunakan di Kick-Off. Jadi, fitur ini pada dasarnya mubazir.

Sekarang, kita menuju bagian terburuk FIFA 21: bertahan. Bermain bertahan di FIFA 21 jauh lebih sulit dari game-game sebelumnya, serta jauh lebih menuntut dalam hal timing. Itu saja sudah cukup menyulitkan, namun bisa jadi menantang... jika seimbang. Sayangnya, fitur ini tidak seimbang, yang sebagian besar disebabkan gerakan skill dan dribel yang kini sudah jauh lebih efektif. Pemain memindahkan bola dan berubah arah dengan sangat cepat, hingga hampir tidak mungkin membaca gerakan pemain lawan dengan baik. Sementara itu, AI bisa mencuri bolamu nyaris tanpa membuat kesalahan.

Kini, bahkan ada opsi "kompetitif" baru, yang bisa dipilih di tingkat kesulitan Legendary dan Ultimate, yang intinya mencoba menyimulasikan perilaku pemain Ultimate Team pro. Pada praktiknya, hal ini berarti AI akan menghabiskan waktu dengan melakukan gerakan skill dan dribel, dan jarang bermain sepakbola dengan benar. Pemain-pemain yang paling hebat adalah yang paling menyebalkan juga, karena bola cenderung menempel ke kaki mereka dan bahkan setelah ditekel, secara ajaib bola akan kembali ke arah mereka. Kami juga harus menyinggung bagaimana mereka bisa dengan sangat mudah mencuri bola segera setelah kehilangan bola tersebut, tanpa memberikanmu waktu untuk bereaksi.

Untungnya, kamu bisa mematikan opsi kompetitif ini, namun bahkan dengan opsi ini mati, AI-nya cenderung menyalahgunakan gerakan skill dan dribel mereka yang hampir sempurna. Sekarang, bertahan dari hal-hal ini adalah proses yang sangat membuat frustrasi, setidaknya jika dimainkan di tingkat kesulitan yang lumayan. Meskipun AI tim lawan amat jago dalam mencuri bola, di saat yang sama ia payah dalam menandai pemain dan menutupi lapangan, yang berujung dengan banyaknya gol dari serangan balik. Kami tidak tahu apakah perubahan ini dibuat untuk memuaskan audiens Amerika, namun kenyataannya adalah kini pertandingan berakhir dengan masing-masing sisi mencetak lebih banyak gol.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Sayangnya, game ini bukanlah sepakbola, melihat FIFA kini kurang berfokus pada menyimulasikan olahraga ini dan lebih berfokus pada memberikan gameplay yang berfokus pada pertandingan Ultimate Team—dan mereka pun gagal dalam hal itu. Gameplay-nya tidak seimbang, dengan mekanika yang berlebihan, kontrol tumpang-tindih, dan AI yang tidak realistis. Memainkan FIFA 21 adalah pengalaman yang membuat frustrasi, meskipun dihiasi dengan beberapa momen magis saat sepakbola sungguhan berhasil muncul.

Mengesampingkan gameplay, FIFA 21 menawarkan konten yang mirip-mirip dengan FIFA 20, yang secara garis besar dapat dibagi tiga: Career, Ultimate Team, dan Volta. Mode karir ini memasukkan beberapa fitur baru yang superfisial, termasuk sebuah rencana pengembangan pemain yang baru. Dengan opsi ini, kamu bisa mendefinisikan area spesifik untuk pengembangan pemain, dan kamu bahkan bisa melatihnya di posisi baru. Kamu juga bisa membuat perjanjian peminjaman pemain dengan klausa pembelian, dan ada opsi baru untuk meningkatkan tingkat kesulitan dalam hal anggaran dan negosiasi, terlepas dari tingkat kesulitan gameplay.

Volta sendiri mengikuti mode cerita yang baru yang, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan Journey yang amat bagus, bisa cukup menyenangkan. Di sini kamu akan mengikuti karir seorang pemain jalanan (pria ataupun wanita), dan berpartisipasi dalam turnamen-turnamen di seluruh dunia. Cukup mengherankan bahwa gameplaynya nampak lebih cocok dengan Volta dibandingkan game dasarnya. Mungkin ini juga bagian dari masalah? Terlepas dari itu, Volta adalah mode yang menyenangkan, penuh kepribadian, dan bahkan memiliki ekosistem poin FIFA dan barang-barang kosmetiknya sendiri.

FIFA 21

Terakhir, ada FUT, mode FIFA yang paling populer. Tidak banyak fitur struktural baru, namun ada penekanan pada kustomisasi, khususnya mengenai stadion. Ada kartu-kartu untuk mengubah warna bangku-bangku, penonton, lagu tema saat memasuki lapangan, lagu pengiring gol, dan bahkan selebrasi spesial. Menurut kami hal-hal ini adalah tambahan positif yang memberikan rasa yang lebih personal dalam pengalaman mode Ultimate Team.

Satu area dimana FIFA tetap menjadi "raja" adalah kualitas produksinya secara keseluruhan, yang selalu sangat tinggi. Mengabaikan menu yang kini jelek dengan warna ungunya, FIFA 21 memasukkan banyak pilihan soundtrack berlisensi serta efek-efek, dan jumlah lisensi, stadion, liga, dan klub yang besar. Hal ini ditambah dengan mode Volta yang memasukkan partisipasi mantan bintang Brasil Kaká dan sekuens sinematik untuk ceritanya. Setelah menuliskan semua itu, kami juga memperhatikan bahwa FIFA 21 menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mulai kuno dalam bagian grafis, apalagi dibandingkan dengan kompetitornya, PES. Kami penasaran, bagaimana game akan terlihat di PS5 dan Xbox Series X, yang kabarnya akan memasukkan perbaikan yang bahkan tidak ada di versi PC-nya.

Jika kamu sudah mengikuti perjalanan saya bersama FIFA selama beberapa tahun ke belakang, kamu akan tahu bahwa saya menganggap FIFA 18 sebagai entri terbaik di seri ini, dan saya bahkan mengatakan bahwa game itu adalah "FIFA terbaik sepanjang masa", namun setelah titik itu, semuanya menurun. FIFA 20 memang punya beberapa masalah, namun situasi memburuk lebih jauh dengan FIFA 21. Perubahan yang mereka hadirkan berujung gameplay yang timpang dengan AI yang mengesalkan, dan menghasilkan game yang makin tidak realistis dan di saat yang sama tidak memberikan pengalaman arcade yang menyenangkan. Mungkin sudah waktunya EA memulai lagi dan berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih mendasar, dan tidak ada waktu yang lebih tepat lagi selain rilisnya konsol generasi baru.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
FIFA 21FIFA 21
FIFA 21FIFA 21
06 Gamereactor Indonesia
6 / 10
+
Volta bisa dibilang adalah game dalam game. Level produksi tinggi, seperti biasa.
-
Gameplay yang timpang. Terlalu banyak kontrol dan mekanika. AI yang tidak realistis.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

FIFA 21Score

FIFA 21

REVIEW. Ditulis oleh Ricardo C. Esteves

Mungkin sudah waktunya mulai dari awal lagi, EA...



Loading next content


Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.